Hetalia: Axis Powers - Taiwan

Jumat, 12 Juni 2015

Tak perlu saya koar-koarkan namamu
Tak perlu saya cantumkan ciri-cirimu
Yang perlu dan harus saya ingat adalah nama atas jasamu
Bukan berjuang untuk negara
Bukan mengorbankan nyawa untuk bangsa
Hanya sebuah buku yang mampu membangkitkan dan meyakinkan saya
Bahwa mempelajari bahasa sendiri bukan hal mudah
Bukan hal sepele yang semua orang pun mampu menguasainya
Disaat mereka meremehkan dan memilih jalur yang mereka pikir mampu menghantarkan hidup dan mati mereka
Anda memilih jalan itu sendiri
Entah apa yang terjadi nanti
Mau jadi apa anda nanti
Bukan masalah bagi anda
Yang tepenting bagi anda adalah anda akan mampu mengguncangkan dunia ini dengan apa yang anda pilih
Ketika mereka tertawa dengan pilihan anda, anda tidak memberikan respon apa-apa
Hanya bungkam
Bukan juga doa laknat atas sikap yang mereka berikan kepada anda
Lihatlah sekarang? Siapa yang menertawakan siapa?
Apa yang bisa mereka perbuat sekarang?
Bungkaman dan tunduk lesu kini yang mereka dapat
Merasa tertampar oleh kata-kata sendiri
Lantas apa yang anda lakukan dengan mereka? Saya pikir anda akan menertawakan mereka juga
Bukannya menertawakan anda malah membantu mereka
Itu yang selalu saya besar-besarkan kepada mereka
Mereka yang bingung dengan apa yang salah pilih sekarang
"Kamu itu pandai mengapa tidak memilih itu saja, mengapa malah kamu memilih yang ini?

Rabu, 10 Juni 2015

Pernah kalian merasa tiba-tiba dada kalian sesak tanpa sebab? Ingin menangis sejadi-jadinya namun tak tahu alasannya? Berteriak sekencang-kencangnya? Seperti ada beban yang menghantui kalian? Namun kalian sendiri tak mengerti dimana letak beban itu berada

Rabu, 27 Mei 2015

Jangan Berakhir

Sebuah cerita yang aku sendiri pun tak pernah mengerti asal mula cerita itu ada. Yang kutahu cerita itu berasal dari bunga tidurku semalam. Aku juga tak tahu kronologi awalnya seperti apa. Hingga aku bisa terbawa dalam sebuah cerita yang bisa membuatku menangis dalam tidur. Kita dipertemukan dalam sebuah peristiwa. Seperti kebanyakan orang berkata bahwa sebuah kebencian akan berakhir saling menyayangi. Begitulah yang kutahu. Dalam mimpi itu kita dipertemukan dalam keadaan yang sangat aku benci. Aku benci kamu. Kamu pun begitu. Kamu selalu mengikuti. Aku tak suka. Ketika aku memberontak bukannya pergi kamu malah menggodaku. Namun kebencian itu membawa perasaan berbeda lama-kelamaan. Ada keterikatan batin sepertinya. Entah sejak kapan darimana dalam cerita itu aku menyukaimu dan kamu menyukai. Bisa dikatakan hari satu hari setelah itu kita jadian. Aneh ya? Cerita yang sebenarnya tak masuk akal. Tapi itulah kronologinya. 
"26 Mei 2015. Ingat ya. Jangan sampai lupa. Itu tanggal jadian kita. Aku mau kita bisa terus sama-sama." itu katamu sambil memegang tanganku yang sampai siang ini aku masih ingat betul.
Dalam cerita tersebut kisah cinta kita seperti sudah berjalan dua minggu. Disitu kamu mulai berubah. Kamu memiliki kesibukan sendiri. Kamu lupa bahwa di sini ada aku. Awalnya aku coba untuk mengerti kondisimu. Aku tahu kamu sedang melatih adek kelasmu. Kamu seolah-olah bersikap profesional. Iya aku paham. Aku mengerti. Aku mengalah untuk tidak mendapatkan kabar darimu untuk saat ini. Seharusnya hari ini kamu sudah bisa memberiku kabar. Seharusnya hari ini kita bisa bertemu. Jalan berdua. Menikmati indahnya matahari terbenam seperti kebiasaan kita dulu waktu sore. Namun lagi-lagi gagal. Katramu kamu harus bekerja "part-time" untuk biaya tambahan kuliahmu. Lagi-lagi aku mengalah. 
Sorenya aku pergi ke tempat bekerjamu. Ingin menemanimu hingga kamu pulang dari kerja. Setibanya di sana aku mencarimu. Kutemukan sosokmu sedang bicara dengan rekan kerjamu. Saat kau juga melihatku, aku berharap kamu melambaikan tangan padaku, menghampiriku, memelukku karena sudah beberapa hari ini kita tak saling tukar kabar karena jadwalmu yang begitu padat. Tapi yang kudapat? Kamu memalingkan muka. Seperti tak senang dengan kehadiranku. Kamu meminta rekanmu untuk menutupi tubuhmu agar tak terlihat olehku. Lalu buru-buru kamu masuk ke dalam kafe tempat kerjamu.
Bersambung....

Minggu, 17 Mei 2015

La Strada Cinta

Saya jenuh
Saya lelah
Saya menyerah
Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya berhenti
Bagaimana caranya menyerah
Bagaimana caranya menghentikan perasaan ini
Sudah bertahun-tahun nama itu ada
Sudah bertahun-tahun pula rasa sakit itu menggerogoti hati dan pikiran saya
Katanya dengan berjalannya waktu saya akan terbiasa tanpa dia
Nyatanya semakin lama saya semakin menderita
Bukankah laki-laki bukan hanya dia saja di dunia ini?
Tapi kenapa sampai saat ini saya masih mempertahankan nama itu di hati saya?
Bukankah banyak lelaki yang memperhatikan saya?
Tetapi saya selalu tertuju kepadanya?
Setiap kali nama itu muncul
Hati saya getir dan kaku
Ada rasa sakit yang luar biasa
Membuat ingatan saya kembali pada dua tahun silam
Saat dicampakkan
Saat ditinggalkan
Saat tak dihiraukan
Dan saat-saat itulah yang membuat saya tersiksa
Tapi kenapa hanya dia dan dia yang selalu ada dipikiran saya
Bukankah saya telah diacuhkan?
Bukankah saya telah diabaikan?
Dan bukankah dia yang telah membuat hati saya hancur berkeping-keping?
Dan nyatanya perasaan itu masih ada dan hanya untuk dia
Saat saya diperlakukan yang tak seharusnya saya dapatkan, saya hanya terdiam
Dalam diam saya berdoa
Bukan berharap karma itu menghampirinya
Tapi dalam doa saya saya berharap
Semoga saya wanita terakhir yang dia sakiti
Dan jangan ada wanita lain yang disakitinya
Cukup saya yang merasakan
Cukup saya yang menderita
Jangan ada wanita lain yang merasakan hal yang sama pula

Kamis, 30 April 2015

Tuan Penghisap Rokok

Aku tak peduli siapa kamu, darimana asalmu, bagaimana masa lalumu. Aku hanya tau bahwa rasa ku untukmu lebih dari yang kau tau. Aku tak pernah peduli dengan apa kata mereka. Selama kamu masih di batas wajar menurut pendapatku tak masalah bagiku.
Mereka selalu bertanya padaku, apa tak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia. Lalu apa jawabku? Aku menjawab : Ada. Mereka bertanya lagi : Lalu kenapa tak dengan yang lain? Yang lebih baik dari dia? Jawabku : apakah kita butuh alasan yang kuat untuk mencintai seseorang?
Itu jawabanku.
Sudah beberapa minggu ini aku menahan rasa rindu yang sebenarnya sudah tak kuat lagi kupendam sendirian. Entah sampai kapan bendungan ini tahan menahan rindu itu. Tak pernah ada keberanian untuk memulai duluan. Jika benar-benar tak ada yang penting aku tak akan memulainya. Mengetahui kabar, kebiasaan, dan aktifitasmu melalui pemberitahuan sosmed saja aku sudah senang. Aku selalu berdoa kepada Tuhan. Nanti atau bahkan suatu saat nanti kita akan disatukan untuk waktu yang sangat amat lama. Terikat dalam sebuah hubungan yang halal. Tak ada jarak antara kita. Tak ada rasa malu dan canggung lagi untuk saling memulai. Menghormati satu sama lain. Bisa bertahan disaat sedang goyah. Tak mengapa aku harus menunggu. Merasakan sakitnya diabaikan, sakit karena tak mendapatkan respon darimu. Tak mengapa. Karena aku yakin Tuhan Maha Mengetahui. Tuhan Maha Adil. Suatu saat nanti aku percaya semua ada jawabannya. Jawaban yang terbaik untukku dan untukmu. Apabila nantinya Tuhan tak mengizinkan kita bersama aku tak menyesal karena sempat memiliki perasaan ini. Dan apabila kita nanti disatukan, satukanlah kami selamanya. Dalam keadaan senang, sedih, bahagia, berduka, hancur, jatuh, dan bangun kami bisa melewati itu semua bersama. Amiinn.

Kau adalah alasan sepasang kakiku berhenti. Meski tanah yang kuinjak penuh kerikil. Membuat berdiriku tak stabil. Kau adalah alasan kenapa pohon bernama hati merelakan daun-daunnya gugur. Karena musim telah berganti. Membuat yang hilang akan kembali. Dalam kisah yang jauh lebih berarti❤

Untukmu yang sampai saat ini masih ku tunggu. Tak perlu terburu-buru mengetahui perasaanku. Nikmati saja dulu kisah-kasihmu. Hingga perasaan itu mulai semu. Dan kau menyadari keberadaanku untukmu.

Kamis, 30 Oktober 2014

Pangeran Superhero

Untuk Si Pangeran Superhero 
yang telah membuatku terbang
lalu menjatuhkanku begitu saja


           Akhir-akhir ini aku diharuskan untuk pulang larut malam. Ada yang harus kukerjakan dengan teman-temanku. Karena sebentar lagi kami dihadapkan oleh event yang membuat kami harus berlatih terus menerus. Suatu hari, tepatnya di hari Rabu, kami berlatih di tempat biasanya, aula. Namun kali ini berbeda, kami harus berbagi tempat dengan team lain yang sama-sama berlatih untuk event yang sama. Kami harus menggunakan tempat itu secara bergantian. Karena kondisi aula yang tidak begitu luas. Mau tak mau kami harus berbagi.
          Giliran team mereka yang berlatih. Sembari menunggu giliran. Kami beristirahat sejenak. Diam-diam aku memperhatikan seseorang yang sedari tadi membuat mataku ingin mengarah kepadanya. Sepertinya aku mengenal pria itu. Seperti pernah melihatnya. Ya Tuhan! Ternyata dia. Si Pangeran Superhero yang selama ini sudah tak pernah terlihat batang hidungnya karena terlalu sibuk dengan urusan kampusnya. Aku memanggilnya Pangeran Superhero karena dia jago bergulat.
          Mataku seakan tak ingin mengalihkan ke pandangan lain. Hati ini serasa berbunga. Kini ia telah kembali. Sosok yang selama ini kugakumi kini telah ada di depan mata dengan keadaan yang berbeda. Dulu ia terlihat agak kurus tanpa kumis. Kini ia menjadi sosok dengan tubuh yang kekar, badan sedikit berisi, kulit yang dulunya putih menjadi sedikit kecoklatan dan kini dengan kumis tipisnya yang memberi kesan lebih dewasa.
          Kau kini menjadi seorang pengampu drama musikal. Ternyata selain lihai bergulat kau juga pandai bermain dalam acting. Tiba-tiba ada sebuah petikan jari yang membuat lamunanku buyar.  
          "Hayo! lagi ngliatin siapa sih sampai segitunya." tanya Bintang
          "Oh ng-gaak kok." jawabku terbata-bata karena kepergok sedang menatap seseorang. 
          "Ah yang bener?" godanya. 
          "Eh Tang aku mau tanya, itu Mas Bram bukan?" tanyaku memastikan. 
          "Iya. Emangnya kenapa? Oh atau jangan-jangan dia ya yang dari tadi kamu liatin?"
          "Apaan sih kamu. Enggak kok." dalihku dengan muka merah menahan malu.
          "Udah deh nggak usah bohong. Kebaca tuh dari wajah kamu. Kita udah temenan berapa lama sih kayak aku nggak tau kamu aja. Apalagi kalau kamu lagi kasmaran. Paling bisa aku baca."
          "Iya ya deh aku ngaku. Tapi nggak usah keras-keras kenapa sih ntar yang lain tahu bisa berabe."
          "Aku panggilin langsung orangnya aja ya." 
          "Jangan! Aku malu, Tang." 
          "Udah nggak papa. Mas Braaaaaaaam!" teriaknya.
          Seketika pria yang bernama Bram (Si Pangeran Superhero) itu menoleh ke arah Bintang.
          "Tu kan Bintang." keluhku seraya menunduk.
          "Kenapa sih? Lagian aku mau salaman kok sama Mas Bram nggak mau bilangin yang kamu bilang tadi. Idih GR banget. Hahaha." ledeknya.Kepalaku menunduk menahan malu.
                                                                                       **** 
          "Boring nih, main TOD yuk." ajak Gita.
          "Boleh, ayok."
          Permainan TOD pun dimulai. sebenarnya aku kurang minat karena nantinya yang kena akan dikerjain habis-habisan. Entah pertanyaan-pertanyaannyalah, tangtangan-tantangannyalah. Kualihkan pandanganku ke Si Pangeran Superhero itu lagi. Dia terlihat gagah. Dia sangat lihai dalam menari. Sangat luwes. Walaupun gerakan dance modern yang sangat sederhana dia bisa menari dengan lincah.      
          "Khem... khem.. Ngliatin siapa sih non? Asik banget kayaknya. Sampai didehemin beberapa kali nggak denger." tanya Gita penasaran. 
          "Itu lho ngliatin si Mas Bram." 
          "Apaan sih Tang. Aku udah bilang kan jangan bilang ke siapa-siapa. Ini nih jeleknya kamu nggak bisa dipercaya jaga omongan." kataku sedikit berbisik ke telinga Bintang. 
          "Ciye Zaza. Aku kenal lho Za. Apa mau tak bilangin ke Mas Bram kalau kamu suka." ledek Gita.
          "Udah deh ngledeknya. Aku cuma sekedar fans kok. Nggak lebih." jawabku dengan tampang cemberut. 
          "Suka juga nggak papa kali. Dia juga habis putus tuh dari pacarnya."
          "Masak?" tanyaku spontanitas.
          "Tu kan kamu penasaran. Udahlah kalau emang suka nggak usah pakai acara bilang cuma sebagai secret admirer segala. Udah ya ngliatnya lanjut ke TODnya aja. Oke non?"
          "Iya deh. Tapi aku ke belakang dulu ya sama Bintang."
          "Oke."
          Permainan TOD dilanjut. Kini giliran Vanny yang kena.
          "Ayok dek mau milih  jujur apa tantangan?" tanya Gita.
          "Tantangan aja deh, Mbak."
          "Oke. Berhubung Si Zaza lagi ke kamar mandi. Aku kasih tantangan kamu buat bilang suka ke Mas yang itu (nunjuk ke Mas Bram)."
          "Lho Mbak." 
          "Bentar belum selesai. Jadi nanti akhir-akhirnya kamu kasih embel-embel gini 'itu yang bilang Mbak Zaza Mas aku cuma nyampein.' gitu ya?"
          "Oh yaya. Siap-siap."
          Tanpa sepengetahuanku mereka merencanakan sesuatu. Dan tantangn dari temen-temen berhasil dilakukan oleh Vanny, si adek kelas. Tapi sebelum Vanny selesai melakukan tantangannya aku sudah kembali lagi. Dan seketika aku melihat Vanny berbicara dengan Mas Bram seraya menunjukku.
          "Kenapa sih si Vanny?" tanyaku heran.
          "Ada deh." jawab mereka kompak.
          "Wah ada yang nggak beres nih. Ada apa sih?"
Dengan wajah tak tahu apa-apa aku menghampiri Vanny dan bertanya. 
          "Kamu habis ngapain sih? Kok tadi waktu ngobrol sama Mas Bram nunjuk aku?"
          "Emmm apa ya?" jawabnya ragu.
          "Tolong kasih tahu."
          "Tapi jangan marah ya Mbak. Soalnya tadi aku dikasih tantangan jadi ya tinggal tak laksanain."
          "Iya deh. Cepetan."
          "Tadi aku dikasih tantangan buat bilang ke Mas Bram kalo aku suka ke Mas Bram tapi embel-embelnya dikasih gini 'ini dari Mbak Zaza, Mas.' gitu Mbak sama aku sebut ciri-ciri Mbak Zaza."
          "Kenapa harus dikasih tau aku yang mana. Kan dia jadi tau aku kan."
          "Maaf deh Mbak." pintanya karena merasa bersalah.
          "Ya Allah. Pada jahat banget sih." protesku teriak ke mereka.
          "Ampun Za. Kan cuma bercanda." jawab mereka.
          "Bercanda apaan coba? Nggak lucu tau nggak."
          "Ya deh Za maafin kita. Eh eh liat tuh Mas Bram jadi ngliat kesini mulu." kata Bintang.
Sontan aku langsung menengok. Benar kata Bintang. Si Pangeran Superhero itu sesekali melihat ke arahku. Entah penasaran mana yang namanya Zaza atau memang ada ketertarikan aku tak tahu. Yang jelas dia sempat melihat ke arahku. Segaris senyum terlihat di wajahku.
          "Aduh ada yang seneng nih diliatin sama si doi." goda mereka.
          "Apaan sih. Udah yuk latihan lagian mereka juga udah selesai kok."    
          Giliran kami yang berlatih. Jujur pada saat giliran kami berlatih aku sedikit tak berkonsentrasi. Karena kejadian tadi membuatku harus sedikit bersembunyi agar Si Pangeran Superhero itu tak tahu mana yang bernama Zaza. Kalau sampai tahu bisa berabe nanti. 
          Bintang mendekatiku. Ia mengatakan bahwa sedari tadi Mas Bram sesekali memperhatikanku. Mencuri-curi pandang. Semakin membuatku tak berkonsentrasi dalam latihan. 
          "Nggak ada salahnya ya tadi Vanny bilang ke Mas Bram. Jadinya sekarang cintamu terbalaskan Za. Hihihi."
          "Belum tentu juga kali Tang. Siapa tahu dia penasaran. Mana sih yang namanya Zaza mungkin gitu pikirnya."
          "Kalo aku lihat-lihat enggak kok. Dia udah tahu kamu. Secara tadi Vanny juga udah ngasih tau kamu yang mana. Ciyeee Zaza jadi nggak konsen deh latihannya."
          "Udah ah. Lanjut lagi yuk latihannya udah ditunggu sama temen-temen tuh."
          Selesai sudah latihan kami. Kami bersiap-siap untuk pulang. Seperti biasa sebelum pulang kami selalu berkumpul dahulu membahas untuk latihan berikutnya lagi sekalian evaluasi keslaahan tadi. Saat aku sedang prepare untuk pulang Bintang memanggilku.
          "Za mau ikut nggak?" "Kemana?" tanyaku.
          "Ke Mas Bram aku mau pamitan dulu.Yuk ikut." godanya.
          "Enggak deh makasih."
          "Ah yang bener? Nyesel lho entar."
          "Nggak kok."
          Sewaktu Bintang ingin pergi ada seorang wanita masuk dari luar aula. Wanita itu asing bagi kami. Seketika mata kami tertuju pada wanita itu. Bertanya-tanya siapakah dia? Ada perlu apa dia kemari. Tak lama pertanyaan kami semua terjawab. Perlahan-lahan dia mendekati Mas Bram. Lalu mereka bercakap-cakap. Terlihat akrab.
          "Za jangan cemburu lho ya. Itu mungkin temennya Mas Bram."
          "Ngomong apa sih kamu. Enggaklah."
          Ya memang tak bisa kupingkiri tiba-tiba hati ini merasa nyeri. Sakit sakit dan sakit. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena tak ada hubungan apapun aku dengan Mas Bram. Aku memang mengenalnya. Namun dia belum mengenalku.
          Kutepis jauh-jauh perasaan itu. Berpikir positif. Mungkin benar yang dikatakan Bintang bahwa perempuan itu hanya temannya saja. 
          Dugaan itu ternyata salah. Kini firasatku benar. Bahwa wanita itu bukan hanya sekedar teman tapi lebih. Jelas. Karena tanpa dia mengatakan bahwa wanita itu kekasihnya aku sudah tau dari sikapnya yang menggandeng tangan wanita tersebut. Ya Tuhan! Perasaan apa ini? Kenapa terasa sakit saat melihat dia bersama orang lain? Apa benar aku hanya sekedar kagum? Kenapa bisa perasaanku berlebihan seperti ini jika memang aku hanya mengaguminya?
          "Sabar ya Za." kata mereka menghiburku.
          "Enggak papalah kan aku juga sebagai pengagum nggak lebih:')" jawabku berbohong.
          Mungkin mulut bisa berbohong tapi hatiku tak bisa mengelak bahwa ternyata aku menyukainya. Lagi-lagi harus kupendam perasaan ini sendirian tanpa sempat terbalaskan. Mungkin ini yang terbaik menjadi seorang penggemar rahasia selamanya.



Dari penggemar rahasiamu
yang hanya bisa mendoakanmu dari jauh
yang hanya bisa memendam perasaan ini
sendiri
Terimakasih telah mengizinkanku menyukaimu
tak mengapa walau kau tak sempat membalasnya