Beat The Movement Road to Asian Games 2018 berhasil mengguncang kampus Universitas Negeri Semarang
Acara yang berlangsung hari Selasa, 12 Desember 2017 lalu, mampu membuat 1.500 lebih masyarakat Semarang berbondong-bondong datang ke acara tersebut. Bekerja sama dengan Kominfo, mengajak anak muda Indonesia turut menjadi bagian perhelatan olahraga bergengsi di Asian melalui posting konten digital positif.
Antusias peserta terlihat dari kedatangan mereka yang rela mengantri sejak pukul 06.00 WIB. Terlebih dengan adanya pembiacara yang menarik, kaos gratis bagi 1000 pendaftar ulang pertama serta kupon sertifikat membuat peserta semakin antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut.
Acara yang dibuka dengan penampilan pencak silat unggulan yang dimiliki Universitas Negeri Semarang mampu membuat peserta tercengang dan semakin penasaran dengan acara yang sedang berlangsung. Dilanjut dengan beberapa penampil pilihan daerah Semarang seperti Salatiga Iconic Costum, Street Dance dan masih banyak lagi. Selain itu, Beat The Movement Semarang kali ini membagi doorprize dengan total hadiah jutaan rupiah dan dua smartphone keren untuk dua orang pemenang video jurnalis.
Beat The Movement mengusung Creative Talk bersama Vidi Aldiano yang merupakan artis muda dan creativepreneur, serta Creative Media Workshop oleh Roderick Adrian Mozes (Sport Video Jurnalism), Rubbi Widiantoro (Makes Content Viral in Sosmed) dan Silih Agung Waseso (Creative Public Relations in Digital Era).
Dengan terselenggaranya acara ini, Kominfo mengajak bagi anak muda Semarang agar mendukung Asian Games 2018 serta diharpakn nantinya memotivasi mereka untuk berkreasi dengan membuat video positif yang dapat bermanfaat.
#DukungBersama #AsianGames2018 #SatukanEnergiIndonesiaJuara #BeatTheMoment #RoadToAsianGames2018
Rabu, 13 Desember 2017
Jumat, 25 November 2016
Mari Budayakan Membaca
Buku adalah
jendela dunia, untuk dapat membukanya kita harus membaca. Banyak gagasan
informasi yang dituangkan bahwa dengan membaca kita bisa mendapat banyak
pengetahuan darimanapun. Namun minat akan membaca masayarakat Indonesia saat
ini sangat kurang. Mereka lebih tertarik menonton televisi daripada membaca
buku. Terbukti bahwa pada tahun 2015, kajian yang dilakukan oleh Perpustakaan
Nasional, minat baca masyarakat menunjukkan kategori rendah yaitu 25,10%. Bukti
lainnya, sastrawan Indonesia, Taufik Ismail melakukan pengkajian bahwa di luar
negeri mewajibkan membaca buku setiap tahunnya. Di Amerika Serikat tepatnya di
Sekolah Menengah Atas mewajibkan siswanya membaca sebanyak 32 buku. Di SMA
Belanda dan Perancis sebanyak 30 buku. Sedangkan di Indonesia sendiri mewajibkan
membaca 0 buku. Itu tandanya, bahwa negara kita jauh tertinggal dengan negara
lain.
Rendahnya
minat baca tentu saja tidak lepas dari adanya berbagai sebab. Keadaan ini jika diterus-teruskan,
slogan “Budayakan Membaca” hanya akan menjadi wacana. Masyarakat lebih senang menggunakan
sesuatu yang lebih praktis. Termasuk media baca yang dalam sejarahnya bermula
dari batu sabak sampai lahirnya kertas masih saja dianggap kurang praktis.
Keberadaan internet mempermudah akses informasi elektronik dalam bentuk audio
dan visual menjadikan masyarakat malas membaca khususnya buku. Peserta didik
juga lebih suka memenuhi kantin daripada pergi ke perpustakaan. Banyak diantara
masyarakat yang lebih suka pergi ke tempat nongkrong yang mewah daripada
mengikuti perkembangan buku dan mengoleksinya. Kurangnya perhatian dari
pemerintah mengenai konten bacaan serta fasilitas dalam upaya meningkatkan
minat baca. Namun bentuk nyata perlu dicontoh seperti yang diterapkan oleh
Pemkod Surabaya. Dalam upaya membangun taman flora yang terletak di Jalan
Bratan, taman tersebut tidak hanya dilengkapi dengan internet tetapi juga
dibangun perpustakaan. Gagasan pembuatan berbagai taman yang disertai
pembangunan perpustakaan akan berakibat tumbuhnya minat baca. Dengan skala kecil
karena yang mengonsumsi buku tersebut hanya pengunjung taman.
Perlu belajar
sejarah dari Kaisar Jepang pada masa perang dunia ke – II yaitu Kaisar Hirohito
yang tidak langsung menanyakan berapa kerugian yang ditimbulkan setelah
hiroshima dan nagasaki diledakkan. Tetapi Kaisar menanyakan berapa banyak guru
yang masih selamat dan berapa banyak buku yang masih bisa diselamatkan.
Keluarga
sebagai tempat pendidikan primer dan paling awal diterima oleh anak serta oleh
anggota keluarga yang lain menyediakan fasilitas untuk kemudahan membaca.
Contoh memprioritaskan pembelian buku sebagai kebutuhan pokok setiap bulannya,
sehingga buku yang terkumpul dapat menjadi bahan bacaan selain untuk pengisi
waktu luang. Akan menjadi menarik ketika setiap keluarga mempunyai perpustakaan
mini di rumah. Tidakhanya terpaku ketersediaan buku fiksi dan non-fiksi. Selain
buku, sumber bacaan lain seperti koran, majalah ataupun kitab suci bisa sebagai
pelengkap.
Pemerintah pun
harus ikut serta dalam upaya meningkatkan minat baca. Sebagai pihak yang
bertanggung jawab merancang undang – undang kebijakan untuk mewajibkan membaca
buku perlu adanya. Mempermudah keluarnya izin untuk buku yang bermuatan
edukatif, Sehingga produksi serta kuantitas buku akan meningkat. Fasilitas yang
diberikan juga harus memadai. Memperbanyak perpustakaan masuk desa. Serta
memperluas distribusi buku menuju daerah terpencil. Sekaligus menggalakkan
pemberantasan buta aksara.
Dengan adanaya
dukungan dan partisipasi dari pihak – pihak tersebut, kegiatan membaca tidak
hanya akan berhenti sebagai kebutuhan melainkan menjadi hal yang membudaya.
Dari berbagai
contoh yang telah dilakukan di berbagai negara, seharusnya Indonesia pun mampu
melakukan hal yang sama guna meningkatkan minat baca. Dengan sikap optimis
bahwa nantinya masyarakat Indonesia akan gemar membaca.
Rabu, 28 Oktober 2015
Jatuh Cinta Diam-Diam (2)
Aku tahu, aku tipikal wanita yang mudah menyukai pria. Bahkan selama tiga tahun menunggumu pun aku sudah berkali-kali menyukai banyak pria. Namun entah mengapa perasaan terhadapmu berbeda. Setiap kali bertemu rasanya jantung ini berhenti lalu berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasa nyaman yang selalu membuatku terus memandang. Rasa malu apabila bertemu. Selalu saja salah tingkah tiap kali berpapasan dan saling memandang. Entah harus menyalahkan siapa soal perasaanku ini. Apakah salah menyukai pria yang sudah memiliki kekasih dan mungkin sebentar lagi akan tunangan? Apakah salah bertahan sejauh ini?
Aku memang menyukaimu bahkan mungkin bisa dikatakan aku menyanyangimu. Namun aku tak berharap banyak darimu. Aku akui siapa yang tak ingin mendapatkan pria yang dcintainya. Bahkan sudah selama ini bertahan. Jujur aku ingin memilikimu seutuhnya. Namun aku sadar. Dia yang bersamamu kini jauh lebih baik dariku. Seorang wanita cantik, pandai, taat dalam beragama. Berbeda jauh dariku. Wanita yang tak seperti wanita. Selalu bertutur keras, bukan tipikal lemah lembut layaknya wanita seutuhnya. Aku sadar aku hanya seorang bocah yang menyukai pria dewasa cerdas dan berkharisma. Aku sadar aku hanya bocah ingusan yang tak tahu malu menyukaimu. Cemburu setiap kali melihatmu bersamanya? Pasti. Tapi aku juga merasa senang kau bersama seseorang yang tepat. Kau pantas mendapatkannya.
Mungkin orang-orang bertanya kepadaku? Kenapa masih bertahan? Padahal kau tahu bahwa dia telah bersamanya? Apa kalian tahu sebenarnya aku ingin menyudahi perasaan ini. Rasa sakit dan iri setiap kali melihat kemesraan mereka. Namun selalu saja terhenti ketika melihatnya tersenyum. Dalam hati ini ada yang berbicara "apakah hanya sampai di sini bukti kesetiaanmu menunggu? Apakah hanya ini? Tak bisakah kau bersabar? Bukankah proses tak akan mengkhianati hasil? Aku mohon bertahanlah untuk tetap menyukainya." Tak hanya itu, perasaan yang entah datang dari mana setiap kali bertemu membuatku semakin jatuh ke dalam lingkaran itu. Bukannya melupakan justru semakin menggebu-gebu.
Dapat melihatmu dari kejauhan pun aku sudah senang. Aku tidak ingin terlalu memaksa Tuhan mengingkan dia menjadi milikku seutuhnya. Biar Tuhan yang mengatur semuanya. Aku hanya meminta. Jika memang dia yang terbaik untukku, aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya pada saat yang tepat. Tapi jika memang Tuhan tak menginginkan aku bersamanya, aku yakin Tuhan pun telah mempersiapkan seorang pria yang terbaik untukku di mata Tuhan.
Jangan khawatir, aku tak akan merusak hubunganmu dengannya. Aku tak segila itu untuk mendapatkanmu. Dan jika nanti pada akhirnya kau bersamanya aku ikhlas. Untuk kekasihmu. Selamat telah mendapatkan pria yang menurutku sempurna. Terimakasih telah menjaganya. Dia sangat mencintaimu. Jadi tolong jaga dia. Tenang saja aku tak akan merusak hubungan yang sudah kalian jalin selama ini.
Dan untukmu jangan buat dia menangis, jangan sakiti dia. Mana mungkin kau melakukan itu semua. Karena aku tahu kau sangat menyayanginya. Izinkan aku memandangimu dari kejauhan untuk waktu yang lebih lama lagi. Jika memang tak bisa memilikimu, izinkan aku menikmati punggungmu saja.
Untukmu, yang selalu membuatku
semakin tergila-gila saat kau
memandangku (mungkin)
Terimakasih karena
telah mengizinkanku
menyayangimu (mungkin) #PP
Aku memang menyukaimu bahkan mungkin bisa dikatakan aku menyanyangimu. Namun aku tak berharap banyak darimu. Aku akui siapa yang tak ingin mendapatkan pria yang dcintainya. Bahkan sudah selama ini bertahan. Jujur aku ingin memilikimu seutuhnya. Namun aku sadar. Dia yang bersamamu kini jauh lebih baik dariku. Seorang wanita cantik, pandai, taat dalam beragama. Berbeda jauh dariku. Wanita yang tak seperti wanita. Selalu bertutur keras, bukan tipikal lemah lembut layaknya wanita seutuhnya. Aku sadar aku hanya seorang bocah yang menyukai pria dewasa cerdas dan berkharisma. Aku sadar aku hanya bocah ingusan yang tak tahu malu menyukaimu. Cemburu setiap kali melihatmu bersamanya? Pasti. Tapi aku juga merasa senang kau bersama seseorang yang tepat. Kau pantas mendapatkannya.
Mungkin orang-orang bertanya kepadaku? Kenapa masih bertahan? Padahal kau tahu bahwa dia telah bersamanya? Apa kalian tahu sebenarnya aku ingin menyudahi perasaan ini. Rasa sakit dan iri setiap kali melihat kemesraan mereka. Namun selalu saja terhenti ketika melihatnya tersenyum. Dalam hati ini ada yang berbicara "apakah hanya sampai di sini bukti kesetiaanmu menunggu? Apakah hanya ini? Tak bisakah kau bersabar? Bukankah proses tak akan mengkhianati hasil? Aku mohon bertahanlah untuk tetap menyukainya." Tak hanya itu, perasaan yang entah datang dari mana setiap kali bertemu membuatku semakin jatuh ke dalam lingkaran itu. Bukannya melupakan justru semakin menggebu-gebu.
Dapat melihatmu dari kejauhan pun aku sudah senang. Aku tidak ingin terlalu memaksa Tuhan mengingkan dia menjadi milikku seutuhnya. Biar Tuhan yang mengatur semuanya. Aku hanya meminta. Jika memang dia yang terbaik untukku, aku ingin dia menjadi milikku seutuhnya pada saat yang tepat. Tapi jika memang Tuhan tak menginginkan aku bersamanya, aku yakin Tuhan pun telah mempersiapkan seorang pria yang terbaik untukku di mata Tuhan.
Jangan khawatir, aku tak akan merusak hubunganmu dengannya. Aku tak segila itu untuk mendapatkanmu. Dan jika nanti pada akhirnya kau bersamanya aku ikhlas. Untuk kekasihmu. Selamat telah mendapatkan pria yang menurutku sempurna. Terimakasih telah menjaganya. Dia sangat mencintaimu. Jadi tolong jaga dia. Tenang saja aku tak akan merusak hubungan yang sudah kalian jalin selama ini.
Dan untukmu jangan buat dia menangis, jangan sakiti dia. Mana mungkin kau melakukan itu semua. Karena aku tahu kau sangat menyayanginya. Izinkan aku memandangimu dari kejauhan untuk waktu yang lebih lama lagi. Jika memang tak bisa memilikimu, izinkan aku menikmati punggungmu saja.
Untukmu, yang selalu membuatku
semakin tergila-gila saat kau
memandangku (mungkin)
Terimakasih karena
telah mengizinkanku
menyayangimu (mungkin) #PP
Senin, 12 Oktober 2015
Jatuh Cinta Diam-Diam
Bukan perkara mudah soal mengungkapkan sebuah perasaan. Contohnya aku. Bertahun-tahun terjebak dalam diam. Tak berani mengungkapkan. Mencintai seorang diri apakah tidak sakit? Tentu iya. Tapi lebih baik seperti ini. Karena apa? Ketakutan apabila nanti dia tahu. Dan kita tak pernah tahu apa reaksi yang akan kita terima. Kebanyakan kasus yang terjadi adalah dia menghindar karena tidak suka. Itu yang kutakutkan. Biarkan perasaan ini berdiam diri di sini. Apabila sakit pun, toh aku sendiri yang merasakan. Aku harap rasa ini bisa kusimpan baik-baik. Hingga tak ada seorang pun yang tahu. Tapi mustahil. Bagaimana tidak? Aku tipe orang yang tak betah menahan sendirian. Setidaknya aku harus cerita dengan teman dekatku. Dan ternyata cerita itu pun sampai ke telingamu. Awalnya aku takut jika hal itu terjadi. Aku pasrah jika memang seperti itu nantinya. Toh itu juga hakmu mau mendekat atau menjauh. Syukurnya sepertinya kamu bersikap biasa saja. Bahkan merasa senang jika aku diejek temanku jika berpapasan denganmu. Dan bodohnya aku terlalu memperlihatkan ekspresi malu ku saat berpapasan denganmu. Ketidakberanian untuk menatap membuatku sesegera mungkin berlari menjauh. Supaya tak tertangkap olehmu raut wajahku yang memalukan ini. Tapi jika aku tak bertemu denganmu pun rasanya rindu. Membingungkan ya. Namanya saja jatuh cinta. Rumit tapi asyik.
Aku tahu kau sedang bersamanya. Aku tahu bukan saat yang tepat untuk mendekat. Maka dari itu biarkan aku seperti ini. Bertahan dalam diam dan tak bereaksi. Sakit memang. Namun memang itu resikonya. Aku juga tak ingin menjadi pengrusak hubungan orang. Apabila nantinya pun kamu tak menjadi milikku aku tak akan menyesal menyukai mu sejauh dan selama ini. Kita juga tak pernah tahu akan seperti apa nantinya. Akankah kau masih tetap bersamanya atau bersamaku, wanita yang selama ini memunggumu? Biarkan waktu yang menjawab. Dan izinkan aku tetap mencintaimu dalan diam.
Dari wanita yang setia menunggumu,
mencintaimu dalam diam,
karena mungkin dengan diam
kita lebih khusyuk untuk saling mendoakan
Aku tahu kau sedang bersamanya. Aku tahu bukan saat yang tepat untuk mendekat. Maka dari itu biarkan aku seperti ini. Bertahan dalam diam dan tak bereaksi. Sakit memang. Namun memang itu resikonya. Aku juga tak ingin menjadi pengrusak hubungan orang. Apabila nantinya pun kamu tak menjadi milikku aku tak akan menyesal menyukai mu sejauh dan selama ini. Kita juga tak pernah tahu akan seperti apa nantinya. Akankah kau masih tetap bersamanya atau bersamaku, wanita yang selama ini memunggumu? Biarkan waktu yang menjawab. Dan izinkan aku tetap mencintaimu dalan diam.
Dari wanita yang setia menunggumu,
mencintaimu dalam diam,
karena mungkin dengan diam
kita lebih khusyuk untuk saling mendoakan
Kamis, 08 Oktober 2015
Pemuja Rahasia
Aku yang terlalu berlebihan menyukaimu. Dan aku tak pernah sadar bahwa itu salah. Terlalu berharap kepadamu yang telah memiliki dia. Aku yang terlalu lama menyimpan rasa. Tak pernah sadar bahwa kehadiranku tak pernah kau lihat. Bagaimana bisa melihat sedangkan kau asik bersamanya. Bagaimana kau akan berpaling sedangkan kau telah berbahagia dengannya. Tak seharusnya aku mengganggumu. Tak seharusnya aku menyukaimu. Tak seharusnya rasaku kuberikan seutuhnya hanya untukmu. Bukan salahmu jika tak menggubrisku. Bukan salahmu jika kau tak pernah tau isi hatiku. Bukan salahmu diam membisu. Karena memang pada hakikatnya akulah yang salah. Telah salah menaruh hati pada seseorang yang telah bahagia bersama orang lain. Jangan khawatir aku tak memintamu untuk bertanggung jawab atas semua ini. Aku juga tak pernah memaksamu untuk membalas perasaan ini. Bukankah cinta hadir tanpa paksaan. Biarkan aku terus memendam perasaanku. Apa aku menyesal? Tidak sama sekali. Justru aku senang. Senang melihat kau bahagia walau bukan bersamaku. Ya memang tak bisa kupungkiri hati ini terasa perih saat melihat kau dengannya. Tapi tak mengapa inilah konsekuensinya. Jangan khawatir aku akan tetap mencintaimu dalam diam. Jika suatu saat nanti kau membutuhkan seseorang, datanglah padaku. Aku selalu ada untukmu. Hati ini akan selalu terbuka lebar. Menerima dengan senang hati.
Dari seorang perempuan
yang masih setia memendam rasa
selama tiga tahun ini
Terimakasih untuk senyum
dan tawamu minggu lalu
Dari seorang perempuan
yang masih setia memendam rasa
selama tiga tahun ini
Terimakasih untuk senyum
dan tawamu minggu lalu
Takut
Merasa resah jika tak mendapatkan kabar darimu. Selalu berharap ada pesan masuk bertuliskan namamu. Memang bukan perkenalan yang bisa dibilang lama. Namun dalam waktu sekejap aku telah terhipnotis olehmu. Aku takut jika nantinya tak berjalan seindah saat pertama kita berbicara. Aku takut jika nantinya hanya aku yang merasakan perasaan ini. Aku takut jika kehilanganmu. Aku benar-benar takut saat ini. Rasa cemas yang dari kemarin kurasa membuatku ingin segera mengatakan padamu tentang perasaanku. Namun aku seorang wanita. Memang tidak salah wanita yang mengungkapkan perasaan terlebih dahulu. Namun aku tak punya banyak nyali untuk mengatakannya. Aku merasa takut jika kamu sudah mulai bosan berbicara kepadaku. Tolong jangan pergi. Izinkan aku menikmati indahnya dicintai dan mencintai. Tolong tetap di sini bersamaku. Karena aku tak ingin ada perpisahan di antara kita.
Untuk kamu yang memiliki
wajah seperti peserta
stand up komedi
Jumat, 04 September 2015
Cinta Tak Berbalas
Senandung yang slalu ku lantunkan
Senyum yang senantiasa merekah
Tawa lembut yang amat berkesan
Mengagumimu dari kejauhan
Rasa yang tumbuh sekian lama
Dan bernaung di sudut hatiku
Ku menanti untuk mewujudkannya
Kucoba menyeru pada langit
Temukan kita di ujung hari
Namun apa daya aku tak bisa
Reff :
Kau bagaikan bintang di langit malam
Kilau cahyamu sinari hatiku
Canda dan tawamu mengisi relung hatiku
Smakin menggebu tuk memilikimu
Ku tak mampu untuk menggapaimu
Menyentuh bayangmu diriku tak mampu
Andaikan engkau tahu seluruh isi hatiku
Ku akan tersenyum pada dunia
Cinta tak berbalas
Cinta yang tak lekang oleh panas
Sayang yang takkan lapuk oleh hujan
Gejolak cinta yang slalu membara
Mengalir bagai simfoni cinta
Hingga cahaya akan berpijar
Bosan tak akan datang menyergap
Perasaan yang tulus di hatiku
Ku tunggu hingga akhir hayatku
Sampai kau menoleh ke arahku
Dan tersenyum kepada diriku
Reff :
Sejauh surya di ujung samudra
Berwarna jingga sangat memesona
Menghangatkan dunia sinari alam semesta
Membentuk siluet nan abadi
Begitu jauh kucoba tuk meraih
Ragaku lemah tak sanggup kugapai
Kutegarkan langkahku kutabahkan hatiku
Semuanya kulakukan untukmu
Cinta tak berbalas
(Terimakasih kepada Bu Mutmainnah, S.Pd selaku guru bahasa dan sastra indonesia karena telah membimbing kami dalam pengonversian puisi menjadi lagu. Terimakasih rekan-rekan satu kelompok Icha, Misna, dan Maya)
Sabtu, 29 Agustus 2015
Kangen
Pertemuan yang bisa dibilang singkat. Namun membekas. Setelah berminggu-minggu sejak perpisahan itu, rasa rindu yang masih tersimpan rapi untukmu hingga saat ini. Aku ingin bertemu. Permintaan yang bodoh mungkin. Karena pada dasarnya aku dan kamu, kita bukan siapa-siapa. Hanya dua orang manusia yang dipertemukan tak sengaja. Mungkin sejak itu. Pandangan yang kau arahkan padaku (mungkin) membuatku jatuh cinta. Bahkan hingga saat ini. Jatuh cinta pada orang yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Yang hanya bertemu selama empat hari. Terlalu singkat dan tergesa-gesa. Tapi memang itu adanya.
Selama ini aku hanya bisa melihat sosial media yang kau punya, yang bahkan bisa dibilang sudah tak kau aktifkan lagi. Itu yang bisa kulakukan saat ini untuk melepas rindu. Sempat meminta agar Tuhan pertemukan kita kembali. Entah kapan. Hingga saat ini kita belum dipertemukan lagi. Mungkin esok, lusa, atau entah kapan. Hanya Tuhan yang tahu. Untuk kau yang di sana. Perlu kau tahu. Di sini ada wanita yang sangat merindukanmu. Aku. Seperti lagu yang kau nyanyikan 'kangen'. Sama seperti lagu itu. Aku sedang merindukanmu. Ya, aku tahu. Aku bukan siapa-siapa. Bahkan terlalu lucu untuk mengatakan ini. Aku sudah tak tahan memendamnya. Kau tahu? I miss you so much, but there is nothing i can do about it. Hanya mengandal doa yang berharap suatu saat nanti Tuhan berbaik hati padaku. Mempertemukan aku denganmu. Aamiin
Semarang, 29 Juli 2015
Teruntukmu yang di sana
Mata-mata (mungkin) yang telah membuatku jatuh cinta.
Masih kutunggu soundcloude terbarumu.
Selama ini aku hanya bisa melihat sosial media yang kau punya, yang bahkan bisa dibilang sudah tak kau aktifkan lagi. Itu yang bisa kulakukan saat ini untuk melepas rindu. Sempat meminta agar Tuhan pertemukan kita kembali. Entah kapan. Hingga saat ini kita belum dipertemukan lagi. Mungkin esok, lusa, atau entah kapan. Hanya Tuhan yang tahu. Untuk kau yang di sana. Perlu kau tahu. Di sini ada wanita yang sangat merindukanmu. Aku. Seperti lagu yang kau nyanyikan 'kangen'. Sama seperti lagu itu. Aku sedang merindukanmu. Ya, aku tahu. Aku bukan siapa-siapa. Bahkan terlalu lucu untuk mengatakan ini. Aku sudah tak tahan memendamnya. Kau tahu? I miss you so much, but there is nothing i can do about it. Hanya mengandal doa yang berharap suatu saat nanti Tuhan berbaik hati padaku. Mempertemukan aku denganmu. Aamiin
Semarang, 29 Juli 2015
Teruntukmu yang di sana
Mata-mata (mungkin) yang telah membuatku jatuh cinta.
Masih kutunggu soundcloude terbarumu.
Senin, 03 Agustus 2015
Konyol ya, lagi-lagi menyukai seseorang dengan cepat. Bukan soal cepat atau tidak. Tapi soal nyaman dan tidak nyaman. Kenapa bisa dikatakan demikian? Yang mampu dan bisa merasakan hanya diri kita sendiri. Karena nyaman itu relatif.
Kamu, pria yang baru empat hari aku kenal. Kenal sebatas tahu siapa namamu, tak lebih. Mungkin hanya mampu curi pandang satu sama lain. Ya, seperti waktu itu. Saat tiba hari ketiga, aku akan melaksanakan perlombaan pentas seniku. Aku merasa ada yang memandangiku. Entah siapa. Waktu aku mencari sosok itu, kutemukan wajahmu. Entah sadar atau tidak, wajah kita bertemu. Aku merasa memang kamu lah yang sejak tadi asik mencuri-curi pandang. Namun saat wajah kita saling dipertemukan kau palingkan mukamu ke arah lain. Sekali dua kali tertangkap basah olehku. Kukira kamu hanya bermain-main. Hanya penasaran kepadaku. Namun ini sudah hampir kelima kali kamu tertangkap basah selalu mengarah kepadaku. Pada saat kelima itu, aku mencoba melihat sekelilingku. Banyak peserta memang. Namun saat aku mencari-cari sebenarnya siapa yang kau pandang dan sewaktu mengembalikan arah muka ku dengan wajah bertanya-tanya dan penasaran, kamu tersenyum ke arahku. Aku semakin bingung. Sebenarnya apa ada yang salah denganmu? Atau aku yang salah? Saat ku cari lagi siapa sosok yang kamu beri senyum, di sekitarku saat itu hanya ada peserta laki-laki. Ah apa iya kamu tersenyum dengan mereka? Karena pada saat itu mereka tidak mengarahkan pandangan ke arahmu. Dan senyum itu terulang hingga dua kali. Dengan wajah bingung dan salah tingkah hanya senyum getir yang kubalas, karena tak tahu harus bagaimana. Karena takut jika senyum itu bukan untukku.
****
Malam ini aku tak bisa tidur. Tak seperti malam-malam kemarin. Yang dengan mudahnya aku membaringkan tubuhku dalam ranjang dan menikmati mimpi yang indah. Aku tak bisa tidur bukan karena aku memikirkanmu. Atau memikirkan senyummu tadi. Hanya saja esok adalah hari terakhir kami dikarantina. Jujur tak ingin berpisah dengan mereka. Karena di sini aku merasa punya teman baru, keluarga baru dan sesuatu yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Karena tak bisa tidur kuputuskan untuk duduk di koridor depan dengan rekan satu kamarku. Saat kami berbincang-bincang. Kamu sedang bersiap untuk pulang. Saat kamu lewat di depan, aku sengaja menundukkan kepala untuk melihat bagaimana sikapmu. Kamu menyapa dengan mengatakan "Pulang dulu ya." Entah dengan rekanku atau denganku. Saat kamu mengatakan itu, kepalaku kutolehkan ke arahmu. Sontak sikapmu berubah. Terburu-buru. Seperti salah tingkah mungkin. Lalu langkahmu kamu percepat. Sikapmu membuatku semakin bingung. Sebenarnya ada denganmu?
Untuk Tuan "End"
Kamu, pria yang baru empat hari aku kenal. Kenal sebatas tahu siapa namamu, tak lebih. Mungkin hanya mampu curi pandang satu sama lain. Ya, seperti waktu itu. Saat tiba hari ketiga, aku akan melaksanakan perlombaan pentas seniku. Aku merasa ada yang memandangiku. Entah siapa. Waktu aku mencari sosok itu, kutemukan wajahmu. Entah sadar atau tidak, wajah kita bertemu. Aku merasa memang kamu lah yang sejak tadi asik mencuri-curi pandang. Namun saat wajah kita saling dipertemukan kau palingkan mukamu ke arah lain. Sekali dua kali tertangkap basah olehku. Kukira kamu hanya bermain-main. Hanya penasaran kepadaku. Namun ini sudah hampir kelima kali kamu tertangkap basah selalu mengarah kepadaku. Pada saat kelima itu, aku mencoba melihat sekelilingku. Banyak peserta memang. Namun saat aku mencari-cari sebenarnya siapa yang kau pandang dan sewaktu mengembalikan arah muka ku dengan wajah bertanya-tanya dan penasaran, kamu tersenyum ke arahku. Aku semakin bingung. Sebenarnya apa ada yang salah denganmu? Atau aku yang salah? Saat ku cari lagi siapa sosok yang kamu beri senyum, di sekitarku saat itu hanya ada peserta laki-laki. Ah apa iya kamu tersenyum dengan mereka? Karena pada saat itu mereka tidak mengarahkan pandangan ke arahmu. Dan senyum itu terulang hingga dua kali. Dengan wajah bingung dan salah tingkah hanya senyum getir yang kubalas, karena tak tahu harus bagaimana. Karena takut jika senyum itu bukan untukku.
****
Malam ini aku tak bisa tidur. Tak seperti malam-malam kemarin. Yang dengan mudahnya aku membaringkan tubuhku dalam ranjang dan menikmati mimpi yang indah. Aku tak bisa tidur bukan karena aku memikirkanmu. Atau memikirkan senyummu tadi. Hanya saja esok adalah hari terakhir kami dikarantina. Jujur tak ingin berpisah dengan mereka. Karena di sini aku merasa punya teman baru, keluarga baru dan sesuatu yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Karena tak bisa tidur kuputuskan untuk duduk di koridor depan dengan rekan satu kamarku. Saat kami berbincang-bincang. Kamu sedang bersiap untuk pulang. Saat kamu lewat di depan, aku sengaja menundukkan kepala untuk melihat bagaimana sikapmu. Kamu menyapa dengan mengatakan "Pulang dulu ya." Entah dengan rekanku atau denganku. Saat kamu mengatakan itu, kepalaku kutolehkan ke arahmu. Sontak sikapmu berubah. Terburu-buru. Seperti salah tingkah mungkin. Lalu langkahmu kamu percepat. Sikapmu membuatku semakin bingung. Sebenarnya ada denganmu?
Untuk Tuan "End"
Selasa, 16 Juni 2015
Setidaknya....
Rasa yang sama untuk orang yang sama. Masih menunggu. Entah kabar atau hanya sapaan basa-basi. Namun nihil. Tak ada satupun yang singgah di telepon genggamku. Tak mengapa. Mungkin Tuhan punya cara lain untuk mendekatkan kita. Tak mengapa tak ada komunikasi di dunia maya. Setidaknya Tuhan masih memberi kesempatan untuk berkomunikasi. Walaupun hanya lewat mimpi.
Jumat, 12 Juni 2015
Tak perlu saya koar-koarkan namamu
Tak perlu saya cantumkan ciri-cirimu
Yang perlu dan harus saya ingat adalah nama atas jasamu
Bukan berjuang untuk negara
Bukan mengorbankan nyawa untuk bangsa
Hanya sebuah buku yang mampu membangkitkan dan meyakinkan saya
Bahwa mempelajari bahasa sendiri bukan hal mudah
Bukan hal sepele yang semua orang pun mampu menguasainya
Disaat mereka meremehkan dan memilih jalur yang mereka pikir mampu menghantarkan hidup dan mati mereka
Anda memilih jalan itu sendiri
Entah apa yang terjadi nanti
Mau jadi apa anda nanti
Bukan masalah bagi anda
Yang tepenting bagi anda adalah anda akan mampu mengguncangkan dunia ini dengan apa yang anda pilih
Ketika mereka tertawa dengan pilihan anda, anda tidak memberikan respon apa-apa
Hanya bungkam
Bukan juga doa laknat atas sikap yang mereka berikan kepada anda
Lihatlah sekarang? Siapa yang menertawakan siapa?
Apa yang bisa mereka perbuat sekarang?
Bungkaman dan tunduk lesu kini yang mereka dapat
Merasa tertampar oleh kata-kata sendiri
Lantas apa yang anda lakukan dengan mereka? Saya pikir anda akan menertawakan mereka juga
Bukannya menertawakan anda malah membantu mereka
Itu yang selalu saya besar-besarkan kepada mereka
Mereka yang bingung dengan apa yang salah pilih sekarang
"Kamu itu pandai mengapa tidak memilih itu saja, mengapa malah kamu memilih yang ini?
Tak perlu saya cantumkan ciri-cirimu
Yang perlu dan harus saya ingat adalah nama atas jasamu
Bukan berjuang untuk negara
Bukan mengorbankan nyawa untuk bangsa
Hanya sebuah buku yang mampu membangkitkan dan meyakinkan saya
Bahwa mempelajari bahasa sendiri bukan hal mudah
Bukan hal sepele yang semua orang pun mampu menguasainya
Disaat mereka meremehkan dan memilih jalur yang mereka pikir mampu menghantarkan hidup dan mati mereka
Anda memilih jalan itu sendiri
Entah apa yang terjadi nanti
Mau jadi apa anda nanti
Bukan masalah bagi anda
Yang tepenting bagi anda adalah anda akan mampu mengguncangkan dunia ini dengan apa yang anda pilih
Ketika mereka tertawa dengan pilihan anda, anda tidak memberikan respon apa-apa
Hanya bungkam
Bukan juga doa laknat atas sikap yang mereka berikan kepada anda
Lihatlah sekarang? Siapa yang menertawakan siapa?
Apa yang bisa mereka perbuat sekarang?
Bungkaman dan tunduk lesu kini yang mereka dapat
Merasa tertampar oleh kata-kata sendiri
Lantas apa yang anda lakukan dengan mereka? Saya pikir anda akan menertawakan mereka juga
Bukannya menertawakan anda malah membantu mereka
Itu yang selalu saya besar-besarkan kepada mereka
Mereka yang bingung dengan apa yang salah pilih sekarang
"Kamu itu pandai mengapa tidak memilih itu saja, mengapa malah kamu memilih yang ini?
Rabu, 10 Juni 2015
Rabu, 27 Mei 2015
Jangan Berakhir
Sebuah cerita yang aku sendiri pun tak pernah mengerti asal mula cerita itu ada. Yang kutahu cerita itu berasal dari bunga tidurku semalam. Aku juga tak tahu kronologi awalnya seperti apa. Hingga aku bisa terbawa dalam sebuah cerita yang bisa membuatku menangis dalam tidur. Kita dipertemukan dalam sebuah peristiwa. Seperti kebanyakan orang berkata bahwa sebuah kebencian akan berakhir saling menyayangi. Begitulah yang kutahu. Dalam mimpi itu kita dipertemukan dalam keadaan yang sangat aku benci. Aku benci kamu. Kamu pun begitu. Kamu selalu mengikuti. Aku tak suka. Ketika aku memberontak bukannya pergi kamu malah menggodaku. Namun kebencian itu membawa perasaan berbeda lama-kelamaan. Ada keterikatan batin sepertinya. Entah sejak kapan darimana dalam cerita itu aku menyukaimu dan kamu menyukai. Bisa dikatakan hari satu hari setelah itu kita jadian. Aneh ya? Cerita yang sebenarnya tak masuk akal. Tapi itulah kronologinya.
"26 Mei 2015. Ingat ya. Jangan sampai lupa. Itu tanggal jadian kita. Aku mau kita bisa terus sama-sama." itu katamu sambil memegang tanganku yang sampai siang ini aku masih ingat betul.
Dalam cerita tersebut kisah cinta kita seperti sudah berjalan dua minggu. Disitu kamu mulai berubah. Kamu memiliki kesibukan sendiri. Kamu lupa bahwa di sini ada aku. Awalnya aku coba untuk mengerti kondisimu. Aku tahu kamu sedang melatih adek kelasmu. Kamu seolah-olah bersikap profesional. Iya aku paham. Aku mengerti. Aku mengalah untuk tidak mendapatkan kabar darimu untuk saat ini. Seharusnya hari ini kamu sudah bisa memberiku kabar. Seharusnya hari ini kita bisa bertemu. Jalan berdua. Menikmati indahnya matahari terbenam seperti kebiasaan kita dulu waktu sore. Namun lagi-lagi gagal. Katramu kamu harus bekerja "part-time" untuk biaya tambahan kuliahmu. Lagi-lagi aku mengalah.
Sorenya aku pergi ke tempat bekerjamu. Ingin menemanimu hingga kamu pulang dari kerja. Setibanya di sana aku mencarimu. Kutemukan sosokmu sedang bicara dengan rekan kerjamu. Saat kau juga melihatku, aku berharap kamu melambaikan tangan padaku, menghampiriku, memelukku karena sudah beberapa hari ini kita tak saling tukar kabar karena jadwalmu yang begitu padat. Tapi yang kudapat? Kamu memalingkan muka. Seperti tak senang dengan kehadiranku. Kamu meminta rekanmu untuk menutupi tubuhmu agar tak terlihat olehku. Lalu buru-buru kamu masuk ke dalam kafe tempat kerjamu.
Bersambung....
Minggu, 17 Mei 2015
La Strada Cinta
Saya jenuh
Saya lelah
Saya menyerah
Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya berhenti
Bagaimana caranya menyerah
Bagaimana caranya menghentikan perasaan ini
Sudah bertahun-tahun nama itu ada
Sudah bertahun-tahun pula rasa sakit itu menggerogoti hati dan pikiran saya
Katanya dengan berjalannya waktu saya akan terbiasa tanpa dia
Nyatanya semakin lama saya semakin menderita
Bukankah laki-laki bukan hanya dia saja di dunia ini?
Tapi kenapa sampai saat ini saya masih mempertahankan nama itu di hati saya?
Bukankah banyak lelaki yang memperhatikan saya?
Tetapi saya selalu tertuju kepadanya?
Setiap kali nama itu muncul
Hati saya getir dan kaku
Ada rasa sakit yang luar biasa
Membuat ingatan saya kembali pada dua tahun silam
Saat dicampakkan
Saat ditinggalkan
Saat tak dihiraukan
Dan saat-saat itulah yang membuat saya tersiksa
Tapi kenapa hanya dia dan dia yang selalu ada dipikiran saya
Bukankah saya telah diacuhkan?
Bukankah saya telah diabaikan?
Dan bukankah dia yang telah membuat hati saya hancur berkeping-keping?
Dan nyatanya perasaan itu masih ada dan hanya untuk dia
Saat saya diperlakukan yang tak seharusnya saya dapatkan, saya hanya terdiam
Dalam diam saya berdoa
Bukan berharap karma itu menghampirinya
Tapi dalam doa saya saya berharap
Semoga saya wanita terakhir yang dia sakiti
Dan jangan ada wanita lain yang disakitinya
Cukup saya yang merasakan
Cukup saya yang menderita
Jangan ada wanita lain yang merasakan hal yang sama pula
Saya lelah
Saya menyerah
Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya berhenti
Bagaimana caranya menyerah
Bagaimana caranya menghentikan perasaan ini
Sudah bertahun-tahun nama itu ada
Sudah bertahun-tahun pula rasa sakit itu menggerogoti hati dan pikiran saya
Katanya dengan berjalannya waktu saya akan terbiasa tanpa dia
Nyatanya semakin lama saya semakin menderita
Bukankah laki-laki bukan hanya dia saja di dunia ini?
Tapi kenapa sampai saat ini saya masih mempertahankan nama itu di hati saya?
Bukankah banyak lelaki yang memperhatikan saya?
Tetapi saya selalu tertuju kepadanya?
Setiap kali nama itu muncul
Hati saya getir dan kaku
Ada rasa sakit yang luar biasa
Membuat ingatan saya kembali pada dua tahun silam
Saat dicampakkan
Saat ditinggalkan
Saat tak dihiraukan
Dan saat-saat itulah yang membuat saya tersiksa
Tapi kenapa hanya dia dan dia yang selalu ada dipikiran saya
Bukankah saya telah diacuhkan?
Bukankah saya telah diabaikan?
Dan bukankah dia yang telah membuat hati saya hancur berkeping-keping?
Dan nyatanya perasaan itu masih ada dan hanya untuk dia
Saat saya diperlakukan yang tak seharusnya saya dapatkan, saya hanya terdiam
Dalam diam saya berdoa
Bukan berharap karma itu menghampirinya
Tapi dalam doa saya saya berharap
Semoga saya wanita terakhir yang dia sakiti
Dan jangan ada wanita lain yang disakitinya
Cukup saya yang merasakan
Cukup saya yang menderita
Jangan ada wanita lain yang merasakan hal yang sama pula
Kamis, 30 April 2015
Tuan Penghisap Rokok
Aku tak peduli siapa kamu, darimana asalmu, bagaimana masa lalumu. Aku hanya tau bahwa rasa ku untukmu lebih dari yang kau tau. Aku tak pernah peduli dengan apa kata mereka. Selama kamu masih di batas wajar menurut pendapatku tak masalah bagiku.
Mereka selalu bertanya padaku, apa tak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia. Lalu apa jawabku? Aku menjawab : Ada. Mereka bertanya lagi : Lalu kenapa tak dengan yang lain? Yang lebih baik dari dia? Jawabku : apakah kita butuh alasan yang kuat untuk mencintai seseorang?
Itu jawabanku.
Sudah beberapa minggu ini aku menahan rasa rindu yang sebenarnya sudah tak kuat lagi kupendam sendirian. Entah sampai kapan bendungan ini tahan menahan rindu itu. Tak pernah ada keberanian untuk memulai duluan. Jika benar-benar tak ada yang penting aku tak akan memulainya. Mengetahui kabar, kebiasaan, dan aktifitasmu melalui pemberitahuan sosmed saja aku sudah senang. Aku selalu berdoa kepada Tuhan. Nanti atau bahkan suatu saat nanti kita akan disatukan untuk waktu yang sangat amat lama. Terikat dalam sebuah hubungan yang halal. Tak ada jarak antara kita. Tak ada rasa malu dan canggung lagi untuk saling memulai. Menghormati satu sama lain. Bisa bertahan disaat sedang goyah. Tak mengapa aku harus menunggu. Merasakan sakitnya diabaikan, sakit karena tak mendapatkan respon darimu. Tak mengapa. Karena aku yakin Tuhan Maha Mengetahui. Tuhan Maha Adil. Suatu saat nanti aku percaya semua ada jawabannya. Jawaban yang terbaik untukku dan untukmu. Apabila nantinya Tuhan tak mengizinkan kita bersama aku tak menyesal karena sempat memiliki perasaan ini. Dan apabila kita nanti disatukan, satukanlah kami selamanya. Dalam keadaan senang, sedih, bahagia, berduka, hancur, jatuh, dan bangun kami bisa melewati itu semua bersama. Amiinn.
Mereka selalu bertanya padaku, apa tak ada lelaki lain yang lebih baik dari dia. Lalu apa jawabku? Aku menjawab : Ada. Mereka bertanya lagi : Lalu kenapa tak dengan yang lain? Yang lebih baik dari dia? Jawabku : apakah kita butuh alasan yang kuat untuk mencintai seseorang?
Itu jawabanku.
Sudah beberapa minggu ini aku menahan rasa rindu yang sebenarnya sudah tak kuat lagi kupendam sendirian. Entah sampai kapan bendungan ini tahan menahan rindu itu. Tak pernah ada keberanian untuk memulai duluan. Jika benar-benar tak ada yang penting aku tak akan memulainya. Mengetahui kabar, kebiasaan, dan aktifitasmu melalui pemberitahuan sosmed saja aku sudah senang. Aku selalu berdoa kepada Tuhan. Nanti atau bahkan suatu saat nanti kita akan disatukan untuk waktu yang sangat amat lama. Terikat dalam sebuah hubungan yang halal. Tak ada jarak antara kita. Tak ada rasa malu dan canggung lagi untuk saling memulai. Menghormati satu sama lain. Bisa bertahan disaat sedang goyah. Tak mengapa aku harus menunggu. Merasakan sakitnya diabaikan, sakit karena tak mendapatkan respon darimu. Tak mengapa. Karena aku yakin Tuhan Maha Mengetahui. Tuhan Maha Adil. Suatu saat nanti aku percaya semua ada jawabannya. Jawaban yang terbaik untukku dan untukmu. Apabila nantinya Tuhan tak mengizinkan kita bersama aku tak menyesal karena sempat memiliki perasaan ini. Dan apabila kita nanti disatukan, satukanlah kami selamanya. Dalam keadaan senang, sedih, bahagia, berduka, hancur, jatuh, dan bangun kami bisa melewati itu semua bersama. Amiinn.
❤
Kau adalah alasan sepasang kakiku berhenti. Meski tanah yang kuinjak penuh kerikil. Membuat berdiriku tak stabil. Kau adalah alasan kenapa pohon bernama hati merelakan daun-daunnya gugur. Karena musim telah berganti. Membuat yang hilang akan kembali. Dalam kisah yang jauh lebih berarti❤
Untukmu yang sampai saat ini masih ku tunggu. Tak perlu terburu-buru mengetahui perasaanku. Nikmati saja dulu kisah-kasihmu. Hingga perasaan itu mulai semu. Dan kau menyadari keberadaanku untukmu.
Untukmu yang sampai saat ini masih ku tunggu. Tak perlu terburu-buru mengetahui perasaanku. Nikmati saja dulu kisah-kasihmu. Hingga perasaan itu mulai semu. Dan kau menyadari keberadaanku untukmu.
Kamis, 30 Oktober 2014
Pangeran Superhero
Untuk Si Pangeran Superhero
yang telah membuatku terbang
lalu menjatuhkanku begitu saja
Akhir-akhir ini aku diharuskan untuk pulang larut malam. Ada yang harus kukerjakan dengan teman-temanku. Karena sebentar lagi kami dihadapkan oleh event yang membuat kami harus berlatih terus menerus. Suatu hari, tepatnya di hari Rabu, kami berlatih di tempat biasanya, aula. Namun kali ini berbeda, kami harus berbagi tempat dengan team lain yang sama-sama berlatih untuk event yang sama. Kami harus menggunakan tempat itu secara bergantian. Karena kondisi aula yang tidak begitu luas. Mau tak mau kami harus berbagi.
Giliran team mereka yang berlatih. Sembari menunggu giliran. Kami beristirahat sejenak. Diam-diam aku memperhatikan seseorang yang sedari tadi membuat mataku ingin mengarah kepadanya. Sepertinya aku mengenal pria itu. Seperti pernah melihatnya. Ya Tuhan! Ternyata dia. Si Pangeran Superhero yang selama ini sudah tak pernah terlihat batang hidungnya karena terlalu sibuk dengan urusan kampusnya. Aku memanggilnya Pangeran Superhero karena dia jago bergulat.
Mataku seakan tak ingin mengalihkan ke pandangan lain. Hati ini serasa berbunga. Kini ia telah kembali. Sosok yang selama ini kugakumi kini telah ada di depan mata dengan keadaan yang berbeda. Dulu ia terlihat agak kurus tanpa kumis. Kini ia menjadi sosok dengan tubuh yang kekar, badan sedikit berisi, kulit yang dulunya putih menjadi sedikit kecoklatan dan kini dengan kumis tipisnya yang memberi kesan lebih dewasa.
Kau kini menjadi seorang pengampu drama musikal. Ternyata selain lihai bergulat kau juga pandai bermain dalam acting. Tiba-tiba ada sebuah petikan jari yang membuat lamunanku buyar.
"Hayo! lagi ngliatin siapa sih sampai segitunya." tanya Bintang
"Oh ng-gaak kok." jawabku terbata-bata karena kepergok sedang menatap seseorang.
"Ah yang bener?" godanya.
"Eh Tang aku mau tanya, itu Mas Bram bukan?" tanyaku memastikan.
"Iya. Emangnya kenapa? Oh atau jangan-jangan dia ya yang dari tadi kamu liatin?"
"Apaan sih kamu. Enggak kok." dalihku dengan muka merah menahan malu.
"Udah deh nggak usah bohong. Kebaca tuh dari wajah kamu. Kita udah temenan berapa lama sih kayak aku nggak tau kamu aja. Apalagi kalau kamu lagi kasmaran. Paling bisa aku baca."
"Iya ya deh aku ngaku. Tapi nggak usah keras-keras kenapa sih ntar yang lain tahu bisa berabe."
"Aku panggilin langsung orangnya aja ya."
"Jangan! Aku malu, Tang."
"Udah nggak papa. Mas Braaaaaaaam!" teriaknya.
Seketika pria yang bernama Bram (Si Pangeran Superhero) itu menoleh ke arah Bintang.
"Tu kan Bintang." keluhku seraya menunduk.
"Kenapa sih? Lagian aku mau salaman kok sama Mas Bram nggak mau bilangin yang kamu bilang tadi. Idih GR banget. Hahaha." ledeknya.Kepalaku menunduk menahan malu.
****
"Boring nih, main TOD yuk." ajak Gita.
"Boleh, ayok."
Permainan TOD pun dimulai. sebenarnya aku kurang minat karena nantinya yang kena akan dikerjain habis-habisan. Entah pertanyaan-pertanyaannyalah, tangtangan-tantangannyalah. Kualihkan pandanganku ke Si Pangeran Superhero itu lagi. Dia terlihat gagah. Dia sangat lihai dalam menari. Sangat luwes. Walaupun gerakan dance modern yang sangat sederhana dia bisa menari dengan lincah.
"Khem... khem.. Ngliatin siapa sih non? Asik banget kayaknya. Sampai didehemin beberapa kali nggak denger." tanya Gita penasaran.
"Itu lho ngliatin si Mas Bram."
"Apaan sih Tang. Aku udah bilang kan jangan bilang ke siapa-siapa. Ini nih jeleknya kamu nggak bisa dipercaya jaga omongan." kataku sedikit berbisik ke telinga Bintang.
"Ciye Zaza. Aku kenal lho Za. Apa mau tak bilangin ke Mas Bram kalau kamu suka." ledek Gita.
"Udah deh ngledeknya. Aku cuma sekedar fans kok. Nggak lebih." jawabku dengan tampang cemberut.
"Suka juga nggak papa kali. Dia juga habis putus tuh dari pacarnya."
"Masak?" tanyaku spontanitas.
"Tu kan kamu penasaran. Udahlah kalau emang suka nggak usah pakai acara bilang cuma sebagai secret admirer segala. Udah ya ngliatnya lanjut ke TODnya aja. Oke non?"
"Iya deh. Tapi aku ke belakang dulu ya sama Bintang."
"Oke."
Permainan TOD dilanjut. Kini giliran Vanny yang kena.
"Ayok dek mau milih jujur apa tantangan?" tanya Gita.
"Tantangan aja deh, Mbak."
"Oke. Berhubung Si Zaza lagi ke kamar mandi. Aku kasih tantangan kamu buat bilang suka ke Mas yang itu (nunjuk ke Mas Bram)."
"Lho Mbak."
"Bentar belum selesai. Jadi nanti akhir-akhirnya kamu kasih embel-embel gini 'itu yang bilang Mbak Zaza Mas aku cuma nyampein.' gitu ya?"
"Oh yaya. Siap-siap."
Tanpa sepengetahuanku mereka merencanakan sesuatu. Dan tantangn dari temen-temen berhasil dilakukan oleh Vanny, si adek kelas. Tapi sebelum Vanny selesai melakukan tantangannya aku sudah kembali lagi. Dan seketika aku melihat Vanny berbicara dengan Mas Bram seraya menunjukku.
"Kenapa sih si Vanny?" tanyaku heran.
"Ada deh." jawab mereka kompak.
"Wah ada yang nggak beres nih. Ada apa sih?"
Dengan wajah tak tahu apa-apa aku menghampiri Vanny dan bertanya.
"Kamu habis ngapain sih? Kok tadi waktu ngobrol sama Mas Bram nunjuk aku?"
"Emmm apa ya?" jawabnya ragu.
"Tolong kasih tahu."
"Tapi jangan marah ya Mbak. Soalnya tadi aku dikasih tantangan jadi ya tinggal tak laksanain."
"Iya deh. Cepetan."
"Tadi aku dikasih tantangan buat bilang ke Mas Bram kalo aku suka ke Mas Bram tapi embel-embelnya dikasih gini 'ini dari Mbak Zaza, Mas.' gitu Mbak sama aku sebut ciri-ciri Mbak Zaza."
"Kenapa harus dikasih tau aku yang mana. Kan dia jadi tau aku kan."
"Maaf deh Mbak." pintanya karena merasa bersalah.
"Ya Allah. Pada jahat banget sih." protesku teriak ke mereka.
"Ampun Za. Kan cuma bercanda." jawab mereka.
"Bercanda apaan coba? Nggak lucu tau nggak."
"Ya deh Za maafin kita. Eh eh liat tuh Mas Bram jadi ngliat kesini mulu." kata Bintang.
Sontan aku langsung menengok. Benar kata Bintang. Si Pangeran Superhero itu sesekali melihat ke arahku. Entah penasaran mana yang namanya Zaza atau memang ada ketertarikan aku tak tahu. Yang jelas dia sempat melihat ke arahku. Segaris senyum terlihat di wajahku.
"Aduh ada yang seneng nih diliatin sama si doi." goda mereka.
"Apaan sih. Udah yuk latihan lagian mereka juga udah selesai kok."
Giliran kami yang berlatih. Jujur pada saat giliran kami berlatih aku sedikit tak berkonsentrasi. Karena kejadian tadi membuatku harus sedikit bersembunyi agar Si Pangeran Superhero itu tak tahu mana yang bernama Zaza. Kalau sampai tahu bisa berabe nanti.
Bintang mendekatiku. Ia mengatakan bahwa sedari tadi Mas Bram sesekali memperhatikanku. Mencuri-curi pandang. Semakin membuatku tak berkonsentrasi dalam latihan.
"Nggak ada salahnya ya tadi Vanny bilang ke Mas Bram. Jadinya sekarang cintamu terbalaskan Za. Hihihi."
"Belum tentu juga kali Tang. Siapa tahu dia penasaran. Mana sih yang namanya Zaza mungkin gitu pikirnya."
"Kalo aku lihat-lihat enggak kok. Dia udah tahu kamu. Secara tadi Vanny juga udah ngasih tau kamu yang mana. Ciyeee Zaza jadi nggak konsen deh latihannya."
"Udah ah. Lanjut lagi yuk latihannya udah ditunggu sama temen-temen tuh."
Selesai sudah latihan kami. Kami bersiap-siap untuk pulang. Seperti biasa sebelum pulang kami selalu berkumpul dahulu membahas untuk latihan berikutnya lagi sekalian evaluasi keslaahan tadi. Saat aku sedang prepare untuk pulang Bintang memanggilku.
"Za mau ikut nggak?" "Kemana?" tanyaku.
"Ke Mas Bram aku mau pamitan dulu.Yuk ikut." godanya.
"Enggak deh makasih."
"Ah yang bener? Nyesel lho entar."
"Nggak kok."
Sewaktu Bintang ingin pergi ada seorang wanita masuk dari luar aula. Wanita itu asing bagi kami. Seketika mata kami tertuju pada wanita itu. Bertanya-tanya siapakah dia? Ada perlu apa dia kemari. Tak lama pertanyaan kami semua terjawab. Perlahan-lahan dia mendekati Mas Bram. Lalu mereka bercakap-cakap. Terlihat akrab.
"Za jangan cemburu lho ya. Itu mungkin temennya Mas Bram."
"Ngomong apa sih kamu. Enggaklah."
Ya memang tak bisa kupingkiri tiba-tiba hati ini merasa nyeri. Sakit sakit dan sakit. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Karena tak ada hubungan apapun aku dengan Mas Bram. Aku memang mengenalnya. Namun dia belum mengenalku.
Kutepis jauh-jauh perasaan itu. Berpikir positif. Mungkin benar yang dikatakan Bintang bahwa perempuan itu hanya temannya saja.
Dugaan itu ternyata salah. Kini firasatku benar. Bahwa wanita itu bukan hanya sekedar teman tapi lebih. Jelas. Karena tanpa dia mengatakan bahwa wanita itu kekasihnya aku sudah tau dari sikapnya yang menggandeng tangan wanita tersebut. Ya Tuhan! Perasaan apa ini? Kenapa terasa sakit saat melihat dia bersama orang lain? Apa benar aku hanya sekedar kagum? Kenapa bisa perasaanku berlebihan seperti ini jika memang aku hanya mengaguminya?
"Sabar ya Za." kata mereka menghiburku.
"Enggak papalah kan aku juga sebagai pengagum nggak lebih:')" jawabku berbohong.
Mungkin mulut bisa berbohong tapi hatiku tak bisa mengelak bahwa ternyata aku menyukainya. Lagi-lagi harus kupendam perasaan ini sendirian tanpa sempat terbalaskan. Mungkin ini yang terbaik menjadi seorang penggemar rahasia selamanya.
Dari penggemar rahasiamu
yang hanya bisa mendoakanmu dari jauh
yang hanya bisa memendam perasaan ini
sendiri
Terimakasih telah mengizinkanku menyukaimu
tak mengapa walau kau tak sempat membalasnya
Kamis, 24 Juli 2014
Takdirkah atau Hanya kebetulan?
Kenalin nama gue Freya. Gue duduk di bangku kelas dua SMA. Katanya masa-masa SMA itu masa-masa yang mengasyikkan, penuh dengan kenangan yang nggak bakal terlupakan. Yang jelas karena masa SMA itu identik dengan cerita cinta anak remaja. Tapi sampai saat ini pun gue belum ngrasain masa-masa itu. Gue udah terlalu nyaman dengan dunia gue. Boleh dibilang gue nggak terlalu mikirin hal itu. Gue lebih suka menghabiskan waktu gue sama temen-temen gue. Emang sih kadang-kadang ngrasa iri sama mereka yang bisa ngrasain masa-masa itu. Masa-masa cinta monyet, katanya. Tapi rasa iri itu hanya hinggap dalam sekejap. Nggak terlalu lama berdiam diri di benak gue. Tapi bukan berarti gue nggak pernah ngrasain yang namanya suka sama seseorang. Gue manusia yang normal. Gue juga pernah ngrasain gimana cinta pertama gue yang bahkan sampai saat ini rasa gue masih bertahan walaupun gak terbalaskan, tapi lebih tepatnya belum terbalaskan. Karena gue tipikal orang yang nggak mau gembor-gembor tentang apa yang gue rasain. Gue lebih suka jadi pemuja rahasia. Walaupun sedikit menyiksa. Jadi alasan itulah mungkin dia, orang yang gue suka nggak pernah tahu ada gue di sini yang suka sama dia dengan waktu yang cukup lama.
Cinta pada pandangan pertama. Itu yang membuat gue ngrasain gimana rasanya menyukai seseorang. Gue ketemu dia waktu SD. Saat gue kelas empat SD dan dia kelas enam SD. Ya saat itulah gue mulai suka sejak pandangan pertama. Nggak ada yang istimewa. Hanya teman lawan main dalam sebuah drama. Yang sama-sama bermain dalam sebuah drama kecil. Ya awalnya hanya sekedar rasa kagum. Karena terlalu kecil untuk seorang anak SD mulai suka sama teman lawan jenisnya. Gue kagum karena gue suka cara dia memainkan peran. Walaupun nggak sehebat temen-temennya tapi menurut gue dia udah termasuk jago. Gimana nggak jago? Kita dikasih waktu tiga minggu untuk menghafalkan naskah yang lumayan tebel. Nggak hanya menghafal naskah, tapi juga bermain peran dengan baik. Menghayati peran tersebut, menguasai panggung, harus bisa berinteraksi dengan penonton.Itu semua harus kita kuasai dalam waktu tiga minggu. Yang membuat gue semakin kagum, dalam waktu satu minggu dia bisa hafal luar kepala dialog peran yang dia mainkan. Dan dia juga berhasil menghayati peran tersebut. Luar biasa menurut gue.
Dalam drama tersebut gue dapet peran sebagai salah satu tokoh pewayangan jawa. Dia dapet peran sebagai salah satu pahlawan super yang namanya diplesetkan. Dari situlah kedekatan kita mulai terbentuk. Gue mulai ngrasa nyaman sama dia. Sampai-sampai kita kayak kakak adik Gue terbiasa manggil dia abang. Kalo gue butuh bantuan dia selalu ada buat gue. Begitu sebaliknya.
Kedekatan itu mulai merenggang disaat akan dilaksanakannya ujian nasional. Gue bisa ngertiin dia. Karena sebelumnya dia pernah bilang ke gue.
"Abang minta maaf kalo nanti waktu kamu butuh bantuan, abang gak bisa setiap saat bantuin kamu. Kamu kan tau sebentar lagi abang ada ujian nasional."
"Iya gakpapa. Semangat ya, Bang."
Ujian Nasional telah berlangsung. Kita mulai jarang bareng lagi. Karena dia udah vacum dalam bermain drama. Secara, dia udah lulus. Gue masih harus melanjutkan dua tahun lagi buat lulus. Setelah kelulusan itu gue nggak pernah lagi denger kabar dari dia.
Waktu zaman gue SD belum kenal yang namanya handphone. Lagian buat gue barang itu belum terlalu penting. Buat menghubungi orangtua gue saat gue minta jemput sekolah? Gak perlu. Karena udah ada jemputan dari sekolah yang setia mengantar dan menjemput gue sekolah. Tapi ada juga temen gue yang bawa handphone, salah satunya sahabat gue. Dia juga tahu gue sempet deket sama abang gue itu (abang ketemu gede). Dia sempet bilang ke gue
"Kenapa kamu nggak coba buat menghubungi dia, sms atau telfon gitu?"
"SMS? Telfon? Handphone aja nggak punya. Lagian kalo punya pun aku nggak punya nomer hpnya."
"Ya minta dong."
"Mana sempet kepikiran kayak gitu. Handphone aja nggak punya."
Gue nyerah. Karena gue juga udah berusaha cari info tentang dia. Lagian gue ngrasa, rasa suka gue hanya sebatas kagum. Nggak lebih.
Masa-masa SD gue berakhir sudah. Kini seragam merah putih pun tergantikan oleh biru putih. Ya, sekarang gue jadi anak SMP, bukan lagi anak SD. Masa Orientasi Siswa yang melelahkan, menjengkelkan, mengasyikkan akhirnya berakhir sudah. Saatnya untuk pulang. Waktu gue melewati ruang kelas sembilan kayak ada yang ngikutin gue di belakang. Entah ngikutin gue atau nggak gue nggak tahu Yang jelas ada yang jalan di belakang gue. Karena gue penasaran, gue nengok ke belakang. Betapa terjekutnya gue. Ternyata orang yang selama ini gue cari-cari satu sekolah lagi sama gue waktu SMP. Apa respon guew aktu ketemu dia? Gue ngrasa seneng, gembira, rasanya gue pengen lari meluk dia. Tapi itu nggak mungkin. Jantung gue sontak berdetak nggak beraturan. Rona wajah gue pun berubah seketika. Sayangnya dia nggak ngliat gue. Walaupun dia di belakang gue tapi jarak kita lumayan jauh. Entah kebetulan atau gimana gue nggak ngerti. Nggak masalah dia nggak ngliat gue. Yang penting gue sekarang bisa lihat dia lagi. Tapi lagi-lagi setiap kali kita bertemu kita akan berpisah. Gue cuma bisa pasrah. Ternyata selama ini gue nggak cuma kagum. Lebih tepatnya ada rasa suka yang terselip di antara kekaguman itu. Tapi gue nggak bisa apa-apa.
Terakhir kali gue ketemu dia waktu gue pulang sekolah. Setiap gue pulang pasti nglewatin SMA dia. Dan kebetulan waktu itu kita dipertemukan di waktu yang nggak gue duga. Di dalam angkot. Gue baru tahu juga kalo dia sekarang SMAnya di situ. Gue bingung mau nyapa apa dan gimana. Akhirnya cuma sebaris senyum yang gue kasih ke dia. Nggak ada percakapan sama sekali. Sampai dia yang membuka duluan sebuah percakapan.
"Baru pulang, Dek?"
"Iya Mas. Barusan pulang juga?" jawabku terbata-bata. Karena bingung harus pake panggilan mas atau bang, yang akhirnya kata mas yang gue keluarin.
"Iya. Kok sore banget Dek?"
"Iya soalnya ada kumpul OSIS tadi."
"Oh gitu."
"Mas sendiri? Kok baru pulang?"
"Iya ada latihan paskib tadi."
"Oh."
Percakapan kami hanya terhenti sampai di situ. Setelah itu kami saling membisu.
"Duluan ya Dek."
"Oh ya Mas."
"Hati-hati di jalan"
"Iya Mas. Kamu juga"
Itu percakapan kami terakhir.
Sekarang gue kelas satu SMA dan dia kelas tiga SMA. Lagi-lagi kita dipertemukan di sekolah yang sama. Ya kita satu SMA lagi. Jarak usia kita terpaut dua tahun. Mungkin karena itu setiap gue memulai sekolah baru dia meninggalkan sekolah yang lama. Gue sempat berpikiran jelek. Menyalahkan takdir yang Tuhan berikan. Kenapa kita harus terpaut dua tahun sih. Coba kalo kita terpaut satu tahun aja pasti gue bisa punya waktu untuk dekat sama dia. Tapi pikiran jelek itu cepet-cepet gue enyahin dari otak gue. Gue nggak bisa nyalahin Tuhan. Tuhan yang lebih ngerti dari gue. Kalo gue dan dia terpaut satu tahun belum tentu kita dipertemukan. Dan mungkin saat ini bukan waktu yang tepat buat kita ketemu. Gue juga nggak ngerti semua ini takdirkah atau hanya kebetulan? Hanya Tuhan yang tahu. Gue cuma minta sama Tuhan kalo gue dan dia dipertemukan lagi kelak. Semoga bukan lagi seperti saat ini dan kemaren-kemaren. Yang setiap kali dipertemukan kita bakal pisah lagi. Gue percaya rencana Tuhan akan lebih indah dari yang kita inginkan. Semoga.
Rabu, 23 Juli 2014
Untuk Si Pahlawan Jawa, Suparman:)
Tuhan entah kenapa perasaan ini berubah seketika setiap melihat dia ada di dekatku. Jantung ini berhenti seketika. Gugup. Senang. Malu. Perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Tuhan apa benar aku jatuh cinta? Atau hanya sekedar rasa suka yang hinggap begitu saja dan akan hilang dengan sendirinya?
Rasa senang yang dengan begitu saja muncul ketika aku tahu dia ada di dekatku. Dengan spontan aku mendekat dan menyapanya "hai". Dia pun membalasnya tanpa ragu. Sapaan itu berlangsung jabat tangan, dan darimana asalnya tanganku dan tangannya kini bersentuhan. Dan kedua tangan kita berayun-ayun. Ayunan ke depan dan ke belakang. Hingga kami tak sadar bahwa banyak yang menyaksikan kami.
Aku baru sadar ternyata dari SD sampai SMA pun kami satu sekolah. Ya SD kami adalah SD swasta di sekitar tempat tinggal kami. Kami memang saling mengenal, saling tahu satu sama lain. Kami juga sempat dekat waktu aku kelas 3 dan dia kelas 5. Kedekatan itu karena kita pernah beradu akting dalam satu drama yang mengharuskan kita menjadi lawan main. Aku menjadi tokoh pewayangan dan dia menjadi pahlawan yang namanya diplesetkan ke dalam bahasa jawa. Dari situlah kita mulai dekat. Namun kedekatan itu terputus karena dia masuk SMP dan aku masih duduk dikelas 5 SD.
Awalnya aku tak menyangka bahwa kita berada dalam satu sekolah yang sama lagi di SMP. Aku baru sadar saat aku akan pulang sekolah. Aku melihat dia. Aku familiar terhadap wajahnya. Sepertinya aku mengenalnya. Kulihat nama yang tertera di dada sebelah kirinya. Benar dugaanku bahwa itu dia. Sangat senang. Itulah perasaan yang kurasakan saat itu. Akhirnya kita dipertemukan lagi. Sayangnya setiap kali kita dipertemukan setiap itulah kita akan terpisah lagi. Ya aku baru saja masuk ke sekolah itu. Dan dia akan lulus. Kenapa selalu begitu?
Dua tahun, waktu yang cukup lama. Setelah selama itu kita tak pernah bertemu, Tuhan mempertemukan kita lagi. Aku bertemu dia waktu aku naik angkutan. Aku memakai seragam biru putihku dan kamu memakai seragam putih-putihmu. Canggung rasanya ingin membuka percakapan terlebih dahulu. Hanya sebaris senyum yang kuberikan kepadanya. Tak sia-sia. Dia pun membalasnya. Senyum yang manis. Akhirnya dia yang memulai pembicaraan
"Baru pulang dek?" tanyanya malu-malu.
"Iya mas. Baru pulang juga?"
"Iya."
Percakapan itu terus berlanjut hingga dia turun dari angkutan umum. Perasaan ini masih sama. Gugup, senang, malu, bingung, canggung. Tak berubah sama sekali.
Siapa sangka jika aku diterima di sekolah yang sama dengannya lagi? Bosankah? Tidak sama sekali. Justru rasa senang yang hinggap di hatiku. Lagi-lagi waktu terasa begitu singkat. Aku baru saja masuk dia akan lulus. Kenapa? Setiap kali bertemu maka kami akan berpisah. Mungkin memang ini jalannya. Aku hanya bisa berdoa jika suatu saat nanti kita dipertemukan lagi dan setiap pertemuan kita akan berpisah, Tuhan aku ingin di waktu yang sempit itu izinkan kami bertemu dan menghabiskan waktu kami yang singkat ini agar kami dapat membuat momen yang tak terlupakan untuk kami. Semoga.
Dari penggemar setiamu wahai Suparman
sekaligus lawan mainmu dalam sebuah drama 6tahun lalu.
Jumat, 20 Juni 2014
Hai Tuan Si Pemain Keyboard
Hari ini Tuhan mempertemukan kita lagi. Setelah tiga tahun tak bertemu. Ada yang berubah darimu. Postur tubuhmu kini agak gemukan. Namun tak terlalu gemuk. Kau terlihat tampan. Rambut juga terlihat rapi. Tak seperti dulu. Rambut acak-acakan. Postur tubuh yang terlalu cungkring seperti kurang gizi. Pakaian yang semrawut. Namun sekarang, kau terlihat berwibawa. Postur tubuhmu kini sudah berisi. Rambut tertata rapi. Pakaian seperti orang kantoran. Aku lebih suka gayamu sekarang.
Awalnya aku tak terlalu memperhatikanmu. Sempat aku merasa pangling dengan raut wajahmu. Namun setelah aku lirik beberapa kali, sepertinya aku familiar dengan wajah itu. Sepertinya kita pernah bertemu. Ya, ternyata kamu.
Entah kenapa perasaan ini jadi berubah setelah tahu kalau itu benar kau. Seketika hati ini berbunga-bunga. Seperti sesorang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga dan dia menemukannya lagi. Dan seketika itu pula aku berusaha mencuri-curi pandangmu. Entah kau tahu atau tidak aku tak peduli. Aku merasa senang karena bisa bertemu denganmu lagi. Ada yang berbeda di hati ini.
Entah hanya perasaanku saja yang merasakan atau kau juga merasakan, sepertinya kau juga sempat mencuri pandang sedikit kepadaku. Apa benar? Sepertinya begitu. Apa yang kau pikirkan? Apa kau mengenaliku? Apa kau pangling terhadapku? Apa kau berpikir aku banyak perubahan. Semula hanya seorang anak yang berbadan kecil kurus. Dan sekarang tumbuh menjadi dewasa dan berbadan besar. Apa itu yang ada di dalam pikiranmu? Mungkin saja. Hanya kau dan Tuhan yang tahu isi hatimu.
Apa kau ingat enam tahun yang lalu, kita sempat bertengkar konyol hanya karena kau menginginkan aku menjadi felkomender (Sang Dirijen) dalam sebuah paduan suara, dan aku menolak. Aku bilang kepadamu bahwa aku tak bisa melakukannya. Dan kamu bilang "Jangan bilang nggak bisa kalau kamu belum mencoba. Ayo lakukan!" Dengan nada yang sinis dan sedikit membentak kau berkata begitu terhadapku. Aku tak suka dibentak ataupun disinisi. Jika aku diperlakukan seperti itu maka aku akan membenci orang itu. Ya seketika itu aku sangat benci padamu. Namun apa daya, setelah lama bersama karena memang diharuskan seperti itu karena kita harus berlatih bersama, sepertinya perasaanku berubah. Perasaan benci ini berubah menjadi perasaan suka. Awalnya aku menolak hatiku agar tak menyukainya, karena pada kenyataannya aku membencinya. Mungkin benar pepatah mengatakan "Jangan terlalu membenci orang karena suatu saat nanti dialah orang yang kau cintai" Akhirnya aku menyerah dan mengakui kepada diriku sendiri bahwa memang aku menyukaimu. Kunikmati hari-hariku saat bersamamu. Mungkin kau tak pernah menyadarinya. Tapi terkadang aku merasa jijik karena penampilanmu yang membuatku risih. Penampilan yang semrawut. Namun tak bisa kupungkiri bahwa hati ini telah jatuh, jatuh kepadamu. Dan sampai saat ini pun mungkin aku masih menyukaimu. Mungkin. Yang jelas aku merasa sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu denganmu lagi. Dan kita saling berbincang-bincang, bahkan mungkin bisa menjadi lebih akrab lagi. Semoga :).
Awalnya aku tak terlalu memperhatikanmu. Sempat aku merasa pangling dengan raut wajahmu. Namun setelah aku lirik beberapa kali, sepertinya aku familiar dengan wajah itu. Sepertinya kita pernah bertemu. Ya, ternyata kamu.
Entah kenapa perasaan ini jadi berubah setelah tahu kalau itu benar kau. Seketika hati ini berbunga-bunga. Seperti sesorang yang telah kehilangan sesuatu yang berharga dan dia menemukannya lagi. Dan seketika itu pula aku berusaha mencuri-curi pandangmu. Entah kau tahu atau tidak aku tak peduli. Aku merasa senang karena bisa bertemu denganmu lagi. Ada yang berbeda di hati ini.
Entah hanya perasaanku saja yang merasakan atau kau juga merasakan, sepertinya kau juga sempat mencuri pandang sedikit kepadaku. Apa benar? Sepertinya begitu. Apa yang kau pikirkan? Apa kau mengenaliku? Apa kau pangling terhadapku? Apa kau berpikir aku banyak perubahan. Semula hanya seorang anak yang berbadan kecil kurus. Dan sekarang tumbuh menjadi dewasa dan berbadan besar. Apa itu yang ada di dalam pikiranmu? Mungkin saja. Hanya kau dan Tuhan yang tahu isi hatimu.
Apa kau ingat enam tahun yang lalu, kita sempat bertengkar konyol hanya karena kau menginginkan aku menjadi felkomender (Sang Dirijen) dalam sebuah paduan suara, dan aku menolak. Aku bilang kepadamu bahwa aku tak bisa melakukannya. Dan kamu bilang "Jangan bilang nggak bisa kalau kamu belum mencoba. Ayo lakukan!" Dengan nada yang sinis dan sedikit membentak kau berkata begitu terhadapku. Aku tak suka dibentak ataupun disinisi. Jika aku diperlakukan seperti itu maka aku akan membenci orang itu. Ya seketika itu aku sangat benci padamu. Namun apa daya, setelah lama bersama karena memang diharuskan seperti itu karena kita harus berlatih bersama, sepertinya perasaanku berubah. Perasaan benci ini berubah menjadi perasaan suka. Awalnya aku menolak hatiku agar tak menyukainya, karena pada kenyataannya aku membencinya. Mungkin benar pepatah mengatakan "Jangan terlalu membenci orang karena suatu saat nanti dialah orang yang kau cintai" Akhirnya aku menyerah dan mengakui kepada diriku sendiri bahwa memang aku menyukaimu. Kunikmati hari-hariku saat bersamamu. Mungkin kau tak pernah menyadarinya. Tapi terkadang aku merasa jijik karena penampilanmu yang membuatku risih. Penampilan yang semrawut. Namun tak bisa kupungkiri bahwa hati ini telah jatuh, jatuh kepadamu. Dan sampai saat ini pun mungkin aku masih menyukaimu. Mungkin. Yang jelas aku merasa sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu denganmu lagi. Dan kita saling berbincang-bincang, bahkan mungkin bisa menjadi lebih akrab lagi. Semoga :).
Dari seseorang yang dulu pernah kau paksa menjadi Felkomender
(Sang Dirijen Paduan Suara) dan menjadi pertengakaran konyol.
(Sang Dirijen Paduan Suara) dan menjadi pertengakaran konyol.
Langganan:
Postingan (Atom)


